Tak ada alasan untuk tidak ke Lombok

Ada banyak alasan menggoda yang memanggil-manggil saya untuk mengunjungi Lombok nan elok. Kekayaan alam bawah laut dan alam atas lautnya yang masih baby -belum tercemar sana sini- adalah yang paling aduhai menurut saya. Sebagai pecinta kopi, sambal, dan pantai, buat saya, tak ada alasan untuk tidak ke Lombok. Pertama, konon katanya kopi luwak lombok itu tiada terkira nikmatnya. Sejak zaman kolonial dulu bahkan kopi ini sudah menjadi minuman favoritnya meneer-meneer Belanda. Membayangkan aroma kopi ini bila diseduh dengan air kelapa saja sudah mampu membuat basah bibir saya. :lol: Kedua, konon katanya [lagi] cabai lombok itu super duper pedas. Saking pedasnya, satu buah cabai yang dipotong-cemplungkan ke rebusan mie instan sanggup membuat bibir jontor dan mata berair sekaligus. Wuihh.. Jadi terbayang nikmat berkeringatnya nyocol tahu dengan sambal beberok: ulekan cabai lombok, tomat, plus terasi. *nelan ludah lagi*

Read the rest of this entry >>

Lapar Mata di Pasar Bawah

Jadi ceritanya saya sedang berada di Jogja ketika teman saya mengabarkan via sms kalau saya dan teman saya itu akan dinas ke Riau dalam waktu dekat. Horee!! Tentu saja saya selalu berbinar-binar tiap kali diutus untuk mengemban tugas negara pergi ke luar kota. Apalagi kalau bukan sambil menyelam, nyari harta karun terpendam a.k.a jalan-jalan, ehh, menghabiskan waktu luang dengan suasana berbeda di luar kota dehh :mrgreen:

Insting traveling saya langsung bekerja: di Riau nanti mau kemana aja yaa? :idea: Dalam memori saya, yang kebetulan saat itu sedang menjenguk Borobudur, hanya terlintas Muara Takus. Sebuah kompleks candi, sama-sama Candi Budha, dan merupakan situs candi tertua di Pulau Sumatera. Sipp lah :lol: . Setelah tempo hari puas menapak tilas Candi-candi Hindu di Prambanan dan Kompleks Candi Arjuna, sekarang giliran Candi Budha.

Read the rest of this entry >>

Gunung Kidul : Coast to Coast

Kali kedua saya kesana, penampilan Gunung Kidul sudah sangat berbeda. Tak lagi terlihat spesial. Kenapa?? Soalnya Gunung Kidul sedang menghijau. Tidak lagi nampak bukit-bukit kapurnya karena udah gak gundul lagi. Tidak juga saya jumpai barisan pepohonan yang meranggas. Sepanjang jalan adalah lembah, sawah, hutan, ladang, dan bebukitan hijau. Pemandangan nan tak langka. Jadinya yaa., biasa aja :mrgreen:

This slideshow requires JavaScript.

Sejujurnya, Gunung Kidul yang sedang meranggas itu lebih eksotis lho. Bagai kota mati lengkap dengan sepinya yang seperti tanpa penghuni. Menciptakan sensasi tersendiri yang wouw bangetlah pokoknya. Apalagi kalau masih berseliweran di jalan selepas senja. Memacu adrenalin sekali. Seperti yang Mas Bayu dan saya coba cicipi dalam perjalanan kali kedua kami ke Gunung Kidul.

Read the rest of this entry >>