Nuansa Kawasan Kuta

8

Sisa hari selepas dari Pink Tangsi, kami habiskan di Pantai Kuta, menikmati senja yang tidak jingga, dari pesisirnya. Pantai Kuta terlihat kelabu sore itu, tanpa tuan matahari yang telah beranjak pergi. Seorang gadis kecil, barangkali belum 7 tahun usianya, masih belum mau menyerah, terus menawari saya dengan gelang dagangannya. Dia terus membuntuti kami. Kesana-kemari. Bahkan ketika kami asyik bercengkerama, mencoba tak hirau akan keberadaannya, gadis kecil ini masih tetap setia, menunggu saya untuk membeli dagangannya.

Gadis Kecil Penjual Gelang - Lombok Tengah

Pantai Seger keesokan harinya dengan gadis kecil yang berbeda

Dia adalah gadis kedua yang menghampiri kami. Melihat kawannya yang lebih dulu sukses merayu, dia pun gak mau kalah, sangat agresif membujuk saya supaya membeli juga gelang-gelangnya. Ahh adik kecil, saya kan bukan gurita yang punya banyak tangan. Kalau saya membeli gelangmu juga, apa kau kemudian akan memanggil kawanmu yang lain untuk memaksa kami membeli gelang yang ketiga?! Maka dengan perasaan tidak nyaman, adik kecil ini terpaksa kami abaikan.

Read the rest of this entry >>

Secangkir Kopi: Jailolo

4

“Tulisan ini diikutkan dalam “Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

“Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest

Bak menikmati secangkir kopi, gula, dan susu yang diblender jadi satu, menghadiri Festival Teluk Jailolo adalah melakoni wisata alam, sejarah, dan seni-budaya sekaligus. Pepatah ‘sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui’ benar-benar berlaku disini, di Jailolo, Halmahera Barat.

***

Read the rest of this entry >>

Pantai Seksi Bernama Pink Tangsi

26

Pantai Pink Tangsi - Lombok

Mulanya saya berkesimpulan kalau pantai paling kece itu adalah pantai yang memiliki pasir putih bersih dan sehalus serbuk susu bubuk. Tapi kesimpulan saya itu mulai goyah sewaktu saya membaca Naked Traveler 2 dan mendapati kalau ternyata Flores memiliki Pink Beach yang pasirnya-berwarna-merah-muda. Telat banget gak sih taunya?! :mrgreen:

Dari hasil berselancar kesana kemari, saya dapati bahwa ternyata pantai berpasir pink termasuk fenomena langka, karena cuma ada 7 di dunia. Dan warna pink yang terlihat seksi di bibir pantai bukanlah semata-mata karena pasirnya berwarna pink. Melainkan berasal dari pecahan karang berwarna pink fanta yang telah bercampur baur dengan pasir, yang akan terlihat sangat manis saat ombak menyapu pesisir.

Pertengahan 2012 secara tidak sengaja saya mengetahui fakta lain yang menakjubkan. Ternyata Lombok juga memiliki pantai berpasir pink! Jadi sekarang bukan 7, tapi 8 pantai berpasir pink di dunia. Dan dua diantaranya ada di Indonesia. Waww.. Kece banget yaa Indonesia?! :lol:

Read the rest of this entry >>

Senggigi Bikin Iri

20

Bukit Nipah

Ibarat naik haji tapi gak lempar jumroh, gak sah banget hukumnya, ke Lombok tanpa mampir-melipir ke Senggigi, pantai paling masyhur seantero Lombok. Setuju? :lol:

Setelah hampir seharian mengurus sejumlah persiapan sebelum melanglang Lombok, sisa waktu hari pertama akhirnya kami habiskan untuk menikmati lukisan Tuhan di sepanjang garis pantai Kawasan Senggigi. Secara jarak dan waktu, memang kawasan pantai inilah pilihan yang paling menarik dan memungkinkan untuk dikunjungi sore itu. Hanya sekitar satu setengah jam waktu tempuhnya dari Cakranegara. Apalagi mengingat letaknya yang di Lombok Barat, pas banget bukan?! Barat-diwaktu-sore. Bisa langsung ketebak dong apa yang kami buru?! Yapp. Apalagi kalau bukan jingga senja. :mrgreen:

Menyusuri Kawasan Senggigi, seketika saya jadi iri dengan penduduk Lombok. Betapa beruntungnya mereka dihadiahi Tuhan kampung halaman seelok ini.  Sepanjang jalan mulai dari Pantai Senggigi, saya dibuat galau antara memandang ke kanan atau menengok ke kiri. Antara memandangi bukit di sisi kanan atau menikmati pantai di sisi kiri. Dua-duanya sama-sama menawan. Keduanya sama-sama mencuri perhatian. Nah, kan. Bikin iri lahir batin kan?!

Read the rest of this entry >>

Ribetnya Sewa Motor di Mataram

30

Menyewa motor sepertinya menjadi agenda paling menyebalkan dan paling saya keluhkan dari liburan kami di Lombok. Gimana nggak?! Dari waktu 8 hari yang kami punya, hampir setengah harinya habis hanya untuk nungguin si pemilik motor datang. Males banget, kan?!

Sebetulnya, sih, sejumlah penginapan di Cakranegara banyak juga yang menyediakan jasa rental motor. Tapi dari penjelasan yang kami tangkap, sepertinya mereka bukanlah pemilik, melainkan hanya sebagai perantara saja. Otomatis harga sewanya jadi lebih mahal dong. Lalu kami disarankan agar mencari rental motor beneran di Taliwang. Bukan. Bukan Taliwang di Sumbawa Barat, kawan. Tapi Kampung Taliwang yang masih di wilayah Cakranegara. Katanya, sih, jarak Kampung Taliwang dari penginapan kami dekat saja. Bisa dicapai dengan berjalan kaki. Ternyata eh ternyata, kami mesti naik cidomo juga. Jauh euyy..

Cidomo merupakan salah satu pilihan transportasi di Cakranegara yang tak lain adalah dokar kalau di Jogja. Bedanya, cidomo memiliki jari-jari roda yang lebih kecil ketimbang dokar. Dan jeleknya, cidomo ini gak dilengkapi dengan wadah untuk menampung kotorannya si kuda. Jadilah di sepanjang jalan mudah sekali ditemukan ceceran kotoran kuda, secara-kuda-kan-beraknya-sembarangan. Haduh! Gak ngerti dehh kenapa yang seperti ini dibiarkan (diabaikan)?! :-? Selain di Cakranegara, cidomo juga bisa ditemukan di Gili Trawangan yang steril dari polusi asap kendaraan bermotor. Kalau di Cakranegara kami membayar ongkos cidomo dengan tarif seikhlasnya, di Gili Trawangan lain lagi ceritanya.

Cidomo

Read the rest of this entry >>

Malam Pertama di Lombok

5

Jangan langsung mikir mesum dulu, kawan. Ini bukan cerita tentang malam pertama yang pake tanda petik lho yaa. :mrgreen:

***

Usia saya bak terpangkas dengan paksa satu jam lamanya, setiba di Bandara Internasional Lombok, karena adanya perbedaan waktu. Meskipun masih sangat penasaran dengan keanehan pemandangan di bandara, tapi saya harus bergegas menuju Damri yang sebentar lagi akan beranjak pergi, secara jarum jam sudah menunjuk angka sembilan, dan kami belum memesan penginapan.

Berhubung rencananya akan menginap di Cakranegara, kami disarankan agar turun di pool Damri Sweta saja. Dari sana, Cakranegara sudah dekat. Tinggal naik taksi yang kami tawar dimuka tarifnya. “Paling mahal 25 ribu”, begitu info yang kami peroleh dari teman Mas Bayu yang tinggal di Lombok.

Berbekal info hasil browsing di internet, kami langsung minta diantar ke Oka Homestay di Jalan Rapatmaja karena katanya homestay ini cukup nyaman dengan tarif yang aman buat kantong backpacker. Dua anjing sebesar herder menyambut kami sewaktu tiba dan mengintip dari balik pagarnya. Untungnya sebelum sempat mengendus kami, kedua anjing itu langsung menurut pergi begitu dipanggil pemiliknya. *fiuhh..

Read the rest of this entry >>