Mengenal Sekelumit Hasil Tambang Di Museum Geologi

Kosan saya di Bandung, letaknya hanya sepelemparan batu dari Museum Geologi. Bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Hampir setiap hari saya bertegur pandang dengan kemegahan arsitekturnya yang bergaya art deco. Hampir setiap hari pula saya bisa menemukan wajah-wajah penuh keriaan para pengunjungnya dari balik kaca bus-bus besar berspanduk ‘Rombongan Study Tour‘ yang terparkir seri di tepi jalan.

Meskipun hanya berjarak sepelemparan batu, namun belum pernah sekali pun saya menyisihkan waktu untuk benar-benar singgah dan mengintip apa saja yang tersimpan di dalamnya. Bukan karena tidak tertarik. Jarak yang hanya sepelemparan batu membuat saya merasa bisa menyambangi Museum Geologi kapan saja. Jadilah saya menunda dan menunda, hingga tanpa terasa periode studi saya hampir berakhir masanya, dan saya belum juga berkunjung kesana.

Adalah di suatu siang di Bulan Februari, ketika akhirnya langkah kaki saya sampai juga di pelataran halamannya.

Read the rest of this entry >>

Seni Menikmati Tipat Tahu Bali

Hujan yang mereda dan langit yang bersalin rupa menjadi penanda jumpa pertama kami dengan Amed, sebuah wilayah di timur Bali yang memesona karena keindahan bawah lautnya. Dua jam berkendara dengan roda dua di bawah linangan air hujan membuat lapar kami datang lebih cepat. Mengenyangkan perut pun segera menjadi agenda utama, selepas menemukan penginapan.

Tidaklah sulit mencari tempat makan di Kawasan Amed. Sejumlah cafe dan resto tumbuh subur menjamuri tepi jalan utamanya. Tapi menemukan menu makanan yang sesuai dengan selera dan isi kantong memang sedikit membutuhkan usaha. Untuk alasan itu, kami putuskan untuk menyusuri Kawasan Amed lebih dulu. Sekalian cuci mata. :mrgreen:

Dari penginapan kami menyusuri jalan sampai ke Desa Bunutan, kemudian putar balik ke arah Desa Culik. Pantulan cahaya dari rumah makan dan penginapan silih berganti menerangi perjalanan kami, hingga tiba saatnya mata saya berserobok dengan papan bertuliskan ‘Warung Makan Balinese Food’. Saya telusuri sekelebat daftar menu yang tertera.

Read the rest of this entry >>

Menyimak Potret Kehidupan Desanya Para Penculik

Tidak seperti Senggigi atau Rinjani yang telah saya dengar kesohorannya jauh hari, sebelum rencana liburan kami menengok Lombok, perkenalan saya dengan Sade belumlah lama. Sebelumnya, jarang saya temukan buku-buku traveling yang mengulas tentang seluk-beluk desa ini. Kebanyakan traveler yang berkunjung ke Lombok, cenderung menceritakan petualangannya mendaki Rinjani atau mengulas kemolekan pantai dan gilinya yang mendunia.

Perkenalan saya dengan Sade dimulai, sewaktu saya membaca satu buku yang secara khusus mengulas seluk-beluk pariwisata Lombok; sebagai bahan menyusun itinerary. Ulasan Sade dalam buku itu pun hanya sekelebat dan tak mampu menarik minat saya untuk memasukkannya ke dalam itinerary liburan sepuluh hari kami.

Jadi, menengok kehidupan masyarakat Sasak di Desa Sade adalah murni ketidaksengajaan. Sewaktu motor yang kami sewa, melaju menuju Kuta, melintasi Jalan Raya Praya, mata saya menangkap papan penanda Desa Sade, berdiri manis di tepi jalan raya. Ternyata lokasinya searah dan tak jauh dari Pantai Kuta, di Kabupaten Lombok Tengah, sisi Pulau Lombok bagian selatan.

Read the rest of this entry >>

Pulau Kotok dan Pengalaman Diving Pertama

IMG_7506

Seiring dengan intensitas traveling yang semakin sering dan passion menjelajah yang semakin membuncah, setidaknya ada tiga hal baru yang ingin sekali saya pelajari. Tiga hal yang kalau sudah saya kuasai, pastinya akan menambah kepuasan saya saat traveling.

Pertama, saya pengen belajar fotografi, supaya foto-foto perjalanan saya lebih sedap dipandang mata. Saya juga pengen bisa bawa motor sendiri, supaya lebih leluasa kalau sewaktu-waktu pengen traveling sendiri. Dan yang ketiga, saya pengen sekali belajar menyelam. Alasannya? Sederhana saja. Secara saya tinggal di negara maritim yang hampir 70 persen wilayahnya adalah lautan, logikanya tentulah ada lebih banyak lagi lukisan Tuhan yang bisa saya nikmati di lautan. Jadi selama belum bisa menyelam, saya tentu masih termasuk golongan orang-orang yang merugi. Pejalan dari seluruh penjuru dunia saja berbondong-bondong datang bertamu untuk melihat isi laut Indonesia. Masa, sih, saya sebagai tuan rumah cuma bisa leyeh-leyeh di tepian pantainya saja. Ibarat punya rumah mewah lengkap dengan fasilitas kolam renang di halaman belakang, tapi kolamnya gak pernah dipakai lantaran gak bisa berenang. Mu-ba-zir-ba-nget!!

Read the rest of this entry >>

Island Hopping di Kepulauan Seribu

Sepanjang rekam jejak perjalanan saya, berlayar untuk melipir ke pulau kecil telah beberapa kali saya lakukan. Seperti halnya menyambangi Gili Trawangan dan Pulau Sempu di awal tahun ini. Tapi island hopping, melompat dari satu pulau ke pulau lainnya, saya belum pernah. Maka tanpa perlu banyak pertimbangan, saya langsung mengiyakan konfirmasi dari Sarihusada yang menanyakan kesediaan saya; mengingat waktu kunjungnya yang di hari kerja. Sebulan sebelumnya, perusahaan multinasional ini tengah menggelar kontes blog berhadiah jelajah gizi ke Kepulauan Seribu. Dan yesh, saya terpilih menjadi salah satu pemenangnya. :lol:

Bukan hanya akan menepi di salah satu atau dua pulaunya saja. Selama tiga hari dua malam nanti, bersama sembilan blogger terpilih lainnya juga teman-teman wartawan dari berbagai media (cetak dan online), kami akan diajak melipir ke enam pulau sekaligus. Membayangkan sejumlah aktivitas yang akan kami lakukan serta pengalaman tak ternilai yang akan saya dapatkan, bolos kuliah satu-dua hari tentulah menjadi tidak signifikan untuk diperdebatkan. Jadi disinilah saya sekarang, di Dermaga Marina, menunggu kapal cepat Bidadari Express yang akan membawa kami melipir ke Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Putri dan Pulau Nusa Keramba.

Read the rest of this entry >>