Island Hopping di Kepulauan Seribu

Sepanjang rekam jejak perjalanan saya, berlayar untuk melipir ke pulau kecil telah beberapa kali saya lakukan. Seperti halnya menyambangi Gili Trawangan dan Pulau Sempu di awal tahun ini. Tapi island hopping, melompat dari satu pulau ke pulau lainnya, saya belum pernah. Maka tanpa perlu banyak pertimbangan, saya langsung mengiyakan konfirmasi dari Sarihusada yang menanyakan kesediaan saya; mengingat waktu kunjungnya yang di hari kerja. Sebulan sebelumnya, perusahaan multinasional ini tengah menggelar kontes blog berhadiah jelajah gizi ke Kepulauan Seribu. Dan yesh, saya terpilih menjadi salah satu pemenangnya. :lol:

Bukan hanya akan menepi di salah satu atau dua pulaunya saja. Selama tiga hari dua malam nanti, bersama sembilan blogger terpilih lainnya juga teman-teman wartawan dari berbagai media (cetak dan online), kami akan diajak melipir ke enam pulau sekaligus. Membayangkan sejumlah aktivitas yang akan kami lakukan serta pengalaman tak ternilai yang akan saya dapatkan, bolos kuliah satu-dua hari tentulah menjadi tidak signifikan untuk diperdebatkan. Jadi disinilah saya sekarang, di Dermaga Marina, menunggu kapal cepat Bidadari Express yang akan membawa kami melipir ke Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Putri dan Pulau Nusa Keramba.

Mempelajari Seluk-beluk Budidaya Rumput Laut di Pulau Pari

Usai menerima sambutan hangat Pak Astawan, Lurah Pulau Pari, tergesa kami pun berebut menghampiri sepeda mini berkeranjang besi yang terparkir rapi di seberang dermaga. Sepeda mini ini akan menjadi kendaraan kami selama bertamu di Pulau Pari. Denting bel sepeda serta merta berpadu dengan gelak tawa; memenuhi udara, membuat riuh suasana perkampungan warga yang semula tenang dan lengang. Tak jarang di sepanjang jalan, kami bertemu pandang dengan warga Pulau Pari. Tak satu pun saya temukan semburat kejengkelan karena terganggu dengan kegaduhan yang kami ciptakan. Yang ada hanyalah senyum yang terkembang, seolah berkata: ‘selamat datang’.

Sepetak pendopo di area Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI menjadi tempat singgah pertama kami. Disana kami akan bertemu dengan Pak Nurhayat, nelayan rumput laut yang akan mengajari kami proses membudidaya rumput laut: mulai dari pembibitan, penanaman, perendaman, sampai rumput laut dikeringkan dan siap diolah menjadi aneka produk.

Proses budidaya rumput laut dimulai dengan pemilihan bibit rumput laut yang tak lain adalah sejumput rumput laut yang baru saja dipanen, yakni rumput laut basah yang belum mengalami proses lebih lanjut. Sejumput tunas rumput laut yang memiiki banyak cabang kemudian dipetik dan diikat renggang di sepanjang tali, dengan jarak antar ikatan sekitar 20 cm. Rumput laut yang telah terikat ini kemudian ditanam mengambang di lautan dangkal dengan cara direntangkan, dimana setiap ujung tali diikatkan pada tiang pancang. Sejumlah gabus juga turut diselipkan disepanjang tali untuk menjaga agar rumput laut tetap mengambang. Selama tidak tercemar oleh limbah dan sampah, hanya dalam waktu 45 hari, lima puluh gram bibit rumput laut tadi bisa berkembang hingga mencapai dua kilogram, rumput laut pun siap dipanen. Sebagian hasil panen kemudian akan menjadi bibit lagi, dan sebagian lainnya dikeringkan untuk dijual sebagai bahan dasar industri.

Proses pengeringan rumput laut sendiri bisa memakan waktu hingga lima hari. Mulai dari proses perendaman di air tawar selama dua malam agar rumput laut tidak lagi asin dan berbau amis, hingga proses penjemuran yang akan memakan waktu 1 sampai 3 hari, tergantung tingginya intensitas matahari. Rumput laut yang telah melalui proses pengeringan biasanya akan menyusut beratnya hingga lebih dari setengahnya. Tak heran bila kemudian harga jual rumput laut kering jauh lebih tinggi dari rumput laut basah. Bila rumput laut basah harga per kilogramnya hanya 3 ribu rupiah, rumput laut kering bisa mencapai 50 ribu per kilogram. Oleh warga Pulau Pari, sebagian besar hasil panen rumput laut kering akan dijual ke perusahaan industri agar-agar bubuk dan kosmetik, sedang sebagian kecilnya akan diolah sendiri menjadi dodol rumput laut yang bisa menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Pulau Pari.

Sepulang dari menanam rumput laut, saya sempat bertukar cerita dengan nelayan yang mengantar kami. Menurutnya, budidaya rumput laut kini tak lagi menjadi satu-satunya komoditas utama Pulau Pari. Seiring dengan semakin menggeliatnya pariwisata Kepulauan Seribu, Pulau Pari pun tak luput; ikut terseret arus. Pulau Pari bahkan disebut-sebut sebagai primadona baru kepulauan seribu. Irama denyut pariwisata menyapa semua warga Pulau Pari tanpa terkecuali; mereka beradaptasi. Membudidaya rumput laut tak lagi menjadi aktivitas sehari-hari, karena di akhir pekan, mereka beralih profesi: melayani wisatawan dengan menjadi guide, menyewakan kapal, peralatan snorkeling juga mengelola penginapan.

Meskipun tengah menyandang predikat sebagai primadona baru Kepulauan Seribu, tak lantas membuat Pulau Pari serta merta berdandan dengan menor. Nuansa atmosfer yang tenang, jauh dari kesan hingar bingar, masih bisa saya rasakan di pulau ini. Potensi alam Pulau Pari juga tak kalah dengan pulau-pulau tetangganya yang lebih dulu ternama. Sebut saja Bintang Rama yang menjadi salah satu spot snorkeling terpopuler di Kepulauan Seribu atau The Wreck, spot diving yang menawarkan sensasi menyelam di kapal karam. Sayang sekali, mengintip isi laut Pulau Pari tak ada dalam agenda kami. Jadi di lain waktu nanti, saya harus kembali!

Pantai Pasir Perawan menjadi penutup kunjungan kami di Pulau Pari. Pantai ini merupakan objek andalan Pulau Pari yang oleh Pak Astawan digadang-gadang mampu membuat kami mabuk kepayang. Bagi saya, kondisi pantai ini memang sangat sesuai dengan namanya: putih bersih, belum ternoda. Di sepanjang pesisirnya hanya ada gazebo dan gubuk bambu warung makan. Bahkan toiletnya pun hanya berupa bilik bambu berdinding terpal. Tak ada bangunan permanen berbahan bata dan semen; seolah keberadaannya hanya akan merusak keperawanan pantai ini. :lol:

Mengintip Pengolahan Ikan Teri dan Rajungan di Pulau Lancang

Hanya dalam 20 menit waktu tempuh dari Pulau Pari, kapal cepat pun telah kembali merapat. Kali ini di dermaga Pulau Lancang, pulau pemukiman yang memiliki ikan teri dan rajungan sebagai komoditas utamanya. Pulau yang masih satu kelurahan dengan Pulau Pari ini sedianya merupakan pusat pemerintahan Kelurahan Pulau Pari, karena Lurah Pulau Pari berkantor di pulau ini; bukan di Pulau Pari. “Tapi jangan panggil saya Lurah Lancang, yaa”, begitu seloroh Pak Astawan yang serta merta membuat kami tertawa.

Ada dua jenis ikan teri yang menjadi komoditas andalan Pulau Lancang, yakni teri belah dan teri nasi atau yang biasa kita kenal dengan sebutan teri medan. Disini kami sempat mengunjungi sentra pengolahan ikan teri, dan melihat langsung bagaimana proses pengawetannya. Bukan dengan formalin, borax, atau jenis pengawet kimia lain yang berbahaya bagi kesehatan; melainkan cukup direbus dalam air garam selama kurang lebih dua jam, lalu dijemur selama empat jam, selesai. Teri pun bisa awet hingga tiga bulan.

Di sentra pengolahan rajungan, kami bertemu dengan Ibu Ika Atika yang banyak bercerita tentang seluk beluk usaha rajungan yang telah dimulainya sejak tahun 2002. Sepintas pandang, bisa jadi kita akan terkecoh dengan penampilan rajungan yang terlihat sangat mirip dengan kepiting. Tapi bila keduanya disandingkan, maka akan terlihat jelas perbedaan keduanya yang terletak pada kaki paling belakang. Selain itu, bila kepiting hidup di dua alam (darat dan laut), rajungan hanya bisa bertahan hidup di dalam air dan akan segera mati tak lama setelah ditangkap.

Menurut Ibu Ika, hasil tangkapan satu kelompok nelayan disini bisa mencapai satu kuintal rajungan per harinya. Di bulan ketika musimnya, yakni antara Juli sampai Desember, hasil tangkapan rajungan bahkan bisa mencapai tiga kuintal per hari. Di sentra inilah rajungan kemudian direbus, di-es-kan, lalu dipacking sebelum kemudian dijual bahkan diekspor hingga ke Jepang. Hingga kini Ibu Ika telah membina sepuluh orang nelayan di Pulau Lancang dan masih berharap bisa bersama-sama mengolah rajungan menjadi produk jadi, tidak hanya menjual mentah ke perusahaan industri.

Di sektor pariwisata, selain wisata memancing, Pulau Lancang juga menawarkan sensasi menyusuri rimbunnya hutan mangrove di atas jembatan sepanjang 50 meter bernama Jembatan Pelangi. Di sepanjang jembatan ini, kita bisa berjumpa dengan aneka satwa yang berhabitat di hutan bakau. Saat ini Pulau Lancang memang belum begitu terdengar gemanya sebagai destinasi pariwisata. Namun mengingat potensi alam dan komoditas yang dimiliki, saya yakin kelak Pulau Lancang akan menyamai popularitas Pulau Pari. Wisata memancing yang bersanding dengan wisata kuliner, bisa menjadi produk pariwisata andalan pulau ini. Harapan Ibu Ika yang ingin bisa mengolah sendiri rajungan menjadi produk jadi pun dapat terealisasi. Semoga.

Menanam Mangrove di Pulau Harapan

Menurut informasi yang saya ketahui dari berbagai sumber, antara bulan April sampai dengan Agustus merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Kepulauan Seribu. Karena selama periode ini, musim hujan telah tergantikan dengan musim kemarau, dan ancaman bertemu badai angin musim barat pun semakin minim. Tapi anomali cuaca yang semakin sering terjadi belakangan ini, membuat cuaca semakin sulit untuk diprediksi. Dan ujung-ujungnya kita sering menjadi kecewa, karena beberapa agenda terpaksa tidak sesuai dengan rencana. Seperti agenda snorkeling di hari ketiga jelajah gizi yang terpaksa batal karena hujan yang enggan berhenti sedari pagi dan tentu saja membuat kecewa kami.

Cuaca yang anomali juga turut membuat panitia memutar haluan agenda di hari kedua. Pulau Harapan yang seharusnya kami kunjungi di sore hari, terpaksa bergeser menjadi pagi. Karena Pulau Pramuka yang rencananya akan kami kunjungi pagi itu, sedang hujan lebat. Pergeseran agenda ini barangkali juga sempat membuat pontang-panting Lurah Pulau Harapan dan Wakil Bupati Kepulauan Seribu yang rencananya akan kami temui.

Adalah Bapak M. Ali, Lurah Pulau Harapan yang banyak bercerita tentang potensi pulau-pulau yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Meskipun bergelar ‘Lurah Pulau Harapan’, tapi wilayah kekuasaan Pak Ali tidak hanya sebatas Pulau Harapan saja, melainkan juga mencakup 30 pulau dimana dua diantaranya, Pulau Harapan dan Pulau Sabira, merupakan pulau pemukiman. Lucunya, Pak Ali tidak menetap di wilayah kekuasaannya sendiri tapi malah tinggal di Pulau Panggang yang notabenenya beda kelurahan. :mrgreen:

Kerupuk ikan dan keripik sukun merupakan dua produk unggulan Pulau Harapan. Tak hanya memanfaatkan potensi lautan, warga Pulau Harapan juga memanfaatkan pohon sukun yang tumbuh subur di wilayahnya menjadi alternatif pangan dan sumber penghasilan. Mulanya saya hanya mencicip satu-dua potong, lantaran tak enak menolak tawaran seorang teman yang baru saja membelinya di tepi dermaga. Tapi sekali mencoba, saya kok jadi ketagihan yaa?! Tanpa malu-malu, saya pun mengambilnya lagi. Kali kedua, saya meraupnya tak tanggung-tanggung, sebanyak mungkin yang jari-jemari saya bisa tampung. Abis enaknya minta ampun! Rasa gurih, asin, dan renyah berpadu jadi satu; menjelajah lidah. Penasaran, saya pun mencoba meraba-raba, kenapa keripik sukun di Pulau Harapan ini terasa berbeda. Hmmn.. Barangkali asinnya air laut turut melengkapi citarasanya.

Selain kedua produk unggulan tadi, Pulau Harapan juga menjadi sentra pembuatan kapal kayu dan alat penangkap ikan, serta budidaya mangrove. Berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Indonesia yang sering kita dengar tengah melakukan konversi hutan mangrove menjadi kebun kelapa sawit secara masif, di Pulau Harapan budidaya mangrove justru menjadi salah satu agenda utama. Kabarnya, tsunami di Acehlah yang telah menjadi pemicunya. Sejak tahun 2005, masyarakat Pulau Harapan mulai aktif membudidaya bibit mangrove. Menanam mangrove berarti menyemai harapan akan keberlangsungan kehidupan di Pulau Harapan. Bak pasukan penjaga kedamaian, mangrove melindungi pulau dari ancaman abrasi dan terpaan angin laut di malam hari, mereduksi efek terjangan badai dan tsunami. Sebagai pemecah ombak, mangrove bahkan lebih efektif dari tanggul-tanggul buatan.

Kini, hampir di setiap RT di sekujur Pulau Harapan dapat kita temukan tempat membudidaya bibit mangrove. Kita pun bisa berpartisipasi menjaga eksistensi Pulau Harapan, hanya dengan membeli beberapa bibit mangrove dan menanamnya di tepian laut Pulau Harapan.

Ada harapan yang turut terselip saat bibit mangrove yang kami tanam menghujam tanah harapan: semoga kelak kami dapat kembali menepi di pulau ini. :-)

Memasak Sate Gepuk di Pulau Pramuka

Pulau Pramuka merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan di Kepulauan Seribu. Seperti halnya pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka menjanjikan pemandangan permukaan dan bawah laut yang bak magnet, selalu menarik kita untuk datang kembali. Lagi. Dan lagi. Tapi untuk kali ini, persinggahan kami di Pulau Pramuka bukan untuk leyeh-leyeh di tepi lautnya. Bukan pula untuk memancing, melepas penyu sisik, atau mengintip isi lautnya. Di pulau yang menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu ini, seluruh peserta jelajah gizi justru ditantang kreatifitasnya untuk memasak sate gepuk, kuliner khas dari Pulau Panggang.

Seorang Ibu, warga Pulau Pramuka memandu kami hanya dengan sedikit clue. Beliau hanya membeberkan bahan berikut cara membuatnya, tanpa disertai takaran. Untuk bahan-bahan yang diperlukan, kami harus mencarinya sendiri di sekeliling Pulau Pramuka. Tentu saja kami senang tak berbilang. Di tengah padatnya jadwal yang telah diatur panitia, bisa berinteraksi langsung dengan warga lokal merupakan salah satu moment yang kami tunggu, sama halnya seperti menanti datangnya senja.

Kami pun berlarian mendatangi pasar, warung, dan dermaga; mencari ikan dan bahan-bahan yang diperlukan. Tawar menawar dan sejumlah permintaan manja, mewarnai interaksi kami dengan mereka. Seorang Ibu penjual kelapa misalnya. Dengan senyum merekah, beliau langsung berlari ke dapur dan membawa keluar parutan kelapanya demi menuruti permintaan manja kami yang malas memarut kelapa sendiri. Seorang bapak penjual ikan hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa ketika ikan kembungnya kami tawar setengah harga; tak tersinggung ataupun marah. Dan entah bagaimana tawa renyahnya justru menghibur kami yang mulai lelah berlarian kesana kemari, membuat nafas kami yang tengah terengah, berangsur kembali berirama teratur.

Cara membuat sate gepuk sebetulnya terbilang mudah bagi mereka yang terbiasa berinteraksi dengan dapur dan lumayan susah bagi saya yang tidak bisa membedakan jenis-jenis bumbu dapur. :lol: Ikan tongkol atau ikan kembung yang telah disayat dan disingkirkan durinya, ditumbuk, lalu dimasak bersama kelapa yang telah disangrai, daun salam, kayu manis, gula merah, dan bumbu yang telah dihaluskan: cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, lada, pala, dan jahe. Setelah matang, adonan sate gepuk dibungkus dengan daun pisang, lalu dibakar. Iyaa, meskipun judulnya ‘sate’, tapi sate gepuk tidaklah seperti sate-sate kebanyakan yang dihidangkan dengan cara ditusuk. Berhubung dimasak dengan mendadak oleh yang bukan ahlinya, tentu saja sate gepuk buatan kami sangat meragukan citarasanya. :mrgreen:

Bermalam di Pulau Putri berbonus sunset cruise

Menurut Pak Aris, pemandu yang menemani kami selama jelajah gizi, pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu ini diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: pulau pemukiman, pulau pribadi, dan pulau resort. Nah, Pulau Putri ini merupakan pulau resort yang katanya, sih, merupakan yang terbaik di Kepulauan Seribu. Beragam fasilitas mulai dari snorkeling, scuba diving, cannoe, water bee, banana boat, glass bottom boat, sunset cruise, sampai akuarium bawah laut macam seaworld tersedia di pulau ini. Dengan fasilitas lengkap dan berkelas seperti ini, tak heran bila resort Pulau Putri mematok tarif menginap yang sangat tinggi per malamnya, dengan rentang antara 1,5 sampai 2.5 jutaan per orang per malam.

Selama tiga hari dua malam menginap di pulau ini, satu-satunya fasilitas yang sempat saya nikmati hanyalah sunset cruise: berlayar mengitari Kepulauan Seribu, melewati pulaunya satu per satu, menyimak langit yang merona jingga bersalin rupa hingga kelabu. Tepat pukul lima, sepulang dari Pulau Pramuka, kami bergegas bertukar kapal, tak ingin melewatkan sunset cruise seperti hari sebelumnya. Bukan kali pertama ini saya melewati senja kala dari atas kapal yang tengah melaju. Tapi berlayar khusus untuk menyimak senja memang memberikan nuansa yang berbeda.

Sengaja kapal melaju dengan kecepatan lambat, seperti ingin memberi tempat yang nyaman bagi mata kami untuk lekat-lekat mengingat inchi demi inchi wajah Kepulauan Seribu. Ahh.. Saya pasti akan merindukan moment satu ini; menyimak senja bersama kawan-kawan yang baru saya kenal kemarin pagi, tapi persahabatan kami begitu terasa hangat memeluk hati. Seperti sepotong mentari senja di langit utara Jakarta, sore ini. :wink:

 

8 Comments

Cuap - cuap Pelancong TraveLafazr ::

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s