Menyimak Potret Kehidupan Desanya Para Penculik

Tidak seperti Senggigi atau Rinjani yang telah saya dengar kesohorannya jauh hari, sebelum rencana liburan kami menengok Lombok, perkenalan saya dengan Sade belumlah lama. Sebelumnya, jarang saya temukan buku-buku traveling yang mengulas tentang seluk-beluk desa ini. Kebanyakan traveler yang berkunjung ke Lombok, cenderung menceritakan petualangannya mendaki Rinjani atau mengulas kemolekan pantai dan gilinya yang mendunia.

Perkenalan saya dengan Sade dimulai, sewaktu saya membaca satu buku yang secara khusus mengulas seluk-beluk pariwisata Lombok; sebagai bahan menyusun itinerary. Ulasan Sade dalam buku itu pun hanya sekelebat dan tak mampu menarik minat saya untuk memasukkannya ke dalam itinerary liburan sepuluh hari kami.

Jadi, menengok kehidupan masyarakat Sasak di Desa Sade adalah murni ketidaksengajaan. Sewaktu motor yang kami sewa, melaju menuju Kuta, melintasi Jalan Raya Praya, mata saya menangkap papan penanda Desa Sade, berdiri manis di tepi jalan raya. Ternyata lokasinya searah dan tak jauh dari Pantai Kuta, di Kabupaten Lombok Tengah, sisi Pulau Lombok bagian selatan.

Sore itu, kami baru saja kembali dari Pantai Pink Tangsi, salah satu dari delapan pantai berpasir pink di dunia yang berada di Jerowaru, Lombok Timur. Tidak jauh letaknya dari Tanjung Ringgit yang sudah lebih dulu ternama. Dari sini, Desa Sade bisa dicapai dalam waktu satu jam. Tapi kabarnya, kalau dari Bandara Internasional Lombok bisa lebih singkat lagi. Hanya sekitar 20 menit.

Dari atas motor yang melaju, mata saya menangkap sekumpulan rumah beratap jerami, dibingkai hijau padi yang tengah melambai-lambai, tergelitik angin yang membuai; seolah memanggil saya untuk singgah sejenak ke desa tua yang dibingkainya. Di pelataran parkirnya yang juga di tepi jalan raya, terparkir sejumlah bus pariwisata. Salah satunya terlihat baru saja menurunkan muatannya yang berisi wisatawan mancanegara. Melihat pemandangan ini, tiba-tiba saya jadi girang sendiri. Persinggahan saya di Lombok Tengah ternyata mirip dengan kata pepatah: sekali melancong, dua-tiga destinasi tersambangi.

***

Kearifan Lokal yang Mengejawantah Dalam Bentuk Rumah

Selepas mencumbui satu per satu pantai di tepi selatan, kami pun berbalik haluan, kembali ke arah Jalan Raya Praya, menepikan motor di sisi kiri jalan, di dekat papan penanda bertuliskan ‘Welcome to Sasak Village’.

Sasak Village

Belum juga motor benar-benar berhenti terparkir, aura kehangatan sudah lebih dulu saya rasakan, menyeruak hadir. Satu per satu lelaki Sasak yang saya jumpai melemparkan senyumnya. Sebelumnya, para pemuda dan lelaki paruh baya ini terlihat tengah asyik bercengkerama, berkumpul di berugaq, semacam gazebo yang terbuat dari bambu, dengan alang-alang sebagai atapnya. Sepintas, mata saya menangkap penampilan mereka yang seragam, mengenakan kaos dengan bawahan kain sarung. Sewaktu salah satu dari mereka menghampiri kami, terjawablah tebakan saya. Pemuda Sasak yang lupa saya tanyakan namanya ini, akan menemani kami menyusuri Desa Sasak.

Rumah adalah atribut paling mencolok, yang langsung tertangkap mata dan melahirkan ribuan tanya, begitu saya tiba di desa ini. Pemuda Sasak yang kemudian saya panggil dengan sebutan ‘Mas’ ini, sepertinya telah paham betul dengan rasa penasaran yang berkecamuk di benak hampir setiap wisatawan. Dengan gaya ala pemandu profesional, namun tetap hangat bersahabat, kami diajak mampir, melipir ke salah satu rumah milik seorang nenek yang tengah asyik bercengkerama; berfoto-foto dengan tamunya.

Seperti halnya rumah-rumah lain di desa ini, rumah nenek tidaklah besar. Bagian dalamnya saya taksir hanya berukuran 4 x 3 meter, sedikit lebih besar dari luas kamar saya. Sisi kiri ruangannya yang tanpa sekat, terisi dengan ranjang kayu beralaskan tikar dengan sebuah bantal. Di sampingnya, berdiri lemari yang tidak terlalu tinggi. Lalu di sisi kanan ruangan, teronggok tungku yang dikelilingi aneka peralatan dapur sederhana. Di salah satu ruas dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu, tergantung sejumlah kendi dengan beragam ukuran dan rupa-rupa perabotan. Betapa setiap inchi dari rumah ini betul-betul difungsikan dengan optimal. Tak terkecuali bagian langit-langit atap yang disulap menjadi rak bambu, penopang berbagai jenis barang.

Oleh masyarakat Sasak, ruangan yang saya ceritakan tadi, biasa disebut dengan ‘bale dalam’. Sedangkan teras tempat nenek menerima tamunya, disebut dengan ‘bale luar’. Kedua bale ini dipisahkan oleh tiga anak tangga, dengan pintu sorong yang sengaja dibuat rendah. Selalu seperti itu, sejak dulu.

Kedua aturan baku pada rumah adat Sasak ini, dibuat bukannya tanpa makna. Filosofinya, pintu yang rendah otomatis membuat kita harus sedikit menundukkan kepala saat akan memasuki rumah, yang juga berarti simbol rasa hormat tamu kepada pemilik rumah. Sedangkan tiga buah anak tangga yang memisahkan bale dalam dari bale luar, merupakan simbol dari konsep Wetu Telu yang dulu dianut nenek moyang Suku Sasak.

Perihal apa makna dari konsep Wetu Telu, sejujurnya saya tidak mampu memberi penjelasan. Meskipun telah membaca beberapa artikelnya, saya merasa tidak memiliki wewenang ilmiah untuk menyimpulkan. Pasalnya, ada beragam sudut pandang dan beragam penjelasan terkait konsep Wetu Telu yang ‘sebenarnya’. Di Desa Bayan bahkan konon hanya pemangku adat yang berhak memberi penjelasan. Seperti halnya Desa Sade, Desa Bayan yang berada di kaki Gunung Rinjani merupakan salah satu dari tiga Desa Sasak yang tersisa, yang masih setia memelihara budaya dan tradisi asli Suku Sasak.

Satu lagi fakta unik yang melekat pada rumah adat Sasak adalah lantainya yang terbuat dari campuran kotoran kerbau, abu jerami, dan tanah liat. “Serius Mas? Emang gak bikin rumah jadi bau yaa?”. Satu pertanyaan polos terlontar begitu saja dari mulut saya. Retoris, karena selama berada disana, saya memang tidak mencium bau yang mengusik indera.

Bukannya tanpa alasan mereka mencampurkan kotoran kerbau dengan tanah liat sebagai material pembentuk lantai. Selain akan membuat lantai mengeras layaknya lantai semen, kotoran kerbau juga berfungsi sebagai pengontrol suhu secara alami. Saat musim kemarau misalnya, lantai akan terasa dingin, dan suhu dalam ruangan menjadi terasa sejuk. Begitu pun saat musim penghujan tiba, ruangan akan terasa hangat karena lantai yang menghangat.

Setelah rumah selesai dibangun, secara berkala masyarakat Sasak akan terus membaluri lantai rumahnya dengan kotoran kerbau. Selain untuk menjaga agar lantai tetap kuat, kotoran kerbau juga membuat nyamuk enggan mendekat.

Selain karena alasan fungsional, digunakannya kotoran kerbau sebagai pelapis lantai juga merupakan bentuk penghormatan Suku Sasak terhadap kerbau, hewan yang dianggap berjasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Jadi inilah rupanya alasan, kenapa saya berulang kali mendapati tanduk kerbau tergantung di dinding bale luar sejumlah rumah. Bagi Suku Sasak, kerbau ternyata merupakan simbol kemakmuran.

Tanduk kerbau di rumah Sasak

Mengingat bagian dalam rumah yang terbilang sangat mungil, rasa penasaran saya terus mematil, mengalahkan rasa sungkan untuk bertanya, yang sedari tadi saya tahan. “Dengan ukuran sekecil itu, apa cukup yaa untuk menampung semua anggota keluarga?”. Rupanya hanya kaum perempuan yang boleh menguasai teritori bale dalam. Sedang para lelaki Sasak, menghabiskan malam-malamnya, menghuni bale luar.

Wuihh, keren. Bisa kuat tidur di luar. Nggak kedinginan?!”.

“Itulah dia hebatnya peran kotoran kerbau, Mbak”, jawab pemandu kami sambil tergelak. Ada rasa bangga yang bisa saya deteksi dari cara menjawabnya. Tak saya pungkiri, masyarakat Sasak memang memiliki kecerdasan yang tinggi dalam berinteraksi dengan alam.

***

Tradisi Menculik Gadis, Simbol Keheroikan Pemuda Sasak

Tak puas hanya mengunjungi satu desa, kami pun melipir ke pelataran parkir yang kemarin sore saya dapati penuh dengan bus pariwisata. Sebuah papan bertuliskan ‘Selamat Datang Di Desa Sasak Sade Rembitan’ menjadi penanda keberadaan Desa Sasak yang kedua.

IMG_4934.jpg

Lokasi kedua desa yang saling berdekatan, membuat saya membayangkan, mungkin dulunya rumah-rumah di sepanjang Jalan Raya Praya ini memiliki arsitektur dan ukuran yang serupa. Modernisasi yang perlahan tapi pasti, membuat sejumlah rumah bersalin rupa, hingga akhirnya hanya dua Desa Sasak inilah yang tersisa. Satu di sisi kiri jalan, dan satu lagi di kanan.

Seperti halnya di desa pertama, di desa ini kami disambut oleh pemuda Sasak yang mengenakan kaus dan berkain sarung. Sebuah buku tamu yang bersanding dengan kotak donasi harus kami isi, sebelum bisa mengetahui isi desa ini lebih jauh.

“Mas dan Mbaknya pengantin baru yaa? Lagi honeymoon?”, Tanya pemandu kami, membuka percakapan, tanpa rasa sungkan. Melihat ekspresi jahilnya, sontak saya dan Mas Bayu saling melirik, lalu berupaya menahan tawa. Wajar saja dia bertanya begitu, secara kami hanya datang berdua dan barangkali terlihat mesra. :mrgreen:

“Kalau adat kami disini, laki-laki yang akan menikah, harus menculik dulu perempuan yang ingin dinikahinya”, lanjutnya, mulai bercerita.

“Menculik gimana maksudnya, Mas?”. Lagi-lagi saya memanggil pemuda Sasak dengan sebutan ala Orang Jawa.

Tidak benar-benar diculik. Tapi memang telah ada kesepakatan sebelumnya antara kedua sejoli yang saling jatuh hati. Keduanya pun harus kompak bekerjasama, supaya proses penculikan lancar dan tidak tertangkap basah orangtua perempuan. Karena culik menculik ini bukannya tanpa resiko. Aksi perlawanan sangat mungkin terjadi. Apalagi kalau orangtua perempuan tidak merestui hubungan kedua sejoli. Konon, nyawa calon mempelai lelaki bisa jadi taruhannya.

Setelah penculikan berhasil, calon mempelai perempuan akan tinggal di rumah keluarga calon mempelai lelaki selama beberapa hari. Sampai calon mempelai laki-laki mengabarkan ke orangtua perempuan, kalau anak gadisnya telah berhasil diculik, dan baik-baik saja. Barulah setelah itu diadakan pertemuan antara kedua belah pihak untuk membahas rencana pernikahan. Dalam budaya masyarakat Sasak, tradisi menculik sebelum menikah ini dikenal dengan sebutan merarik.

Bagi masyarakat Sasak, tradisi menculik perempuan yang ingin dinikahi, dipandang lebih terhormat dan heroik ketimbang melamar secara baik-baik. Bagi saya yang baru kali pertama ini mendengarnya, tradisi ini terasa mirip dengan cerita klasik dari negeri dongeng. Kisah heroik sang pangeran yang berjuang melawan naga, demi bisa membebaskan sang puteri yang ingin dinikahinya. Jadi berkesan romantis yaa?!

Tapi ternyata, tidak selalu semanis ini jalan ceritanya. Aksi penculikan juga mungkin dilakukan oleh lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Bila penculikan telah berhasil dilakukan, tak ada alasan bagi keluarga perempuan untuk menolak pernikahan. Membatalkan pernikahan bisa menjadi aib bagi keluarga, dan anak gadisnya terancam menjadi perawan tua karena tak ada lagi laki-laki yang mau melirik dan menculiknya. Ternyata tak selalu berkesan romantis, aksi culik menculik juga bisa berubah menjadi terror bagi sejumlah gadis.

Jadi kalau begitu, tradisi merarik ini mendiskreditkan kedudukan kaum perempuan Sasak dong? Mereka seakan-akan tidak memiliki pilihan? Tidak juga. Menurut pemandu kami, selama masa pendekatan, perempuan Sasak bisa saja menjalin hubungan dengan empat pemuda sekaligus. Secara bergantian mereka akan mengunjungi rumah sang gadis untuk melakukan pendekatan, termasuk dengan keluarganya. Sebatang rokok akan menjadi penanda batas waktu kunjungannya. Misalnya saat malam minggu tiba, empat pemuda tadi bisa bertemu dengan sang gadis secara bergantian di waktu yang berurutan. Begitu sebatang rokok pemuda pertama telah habis terisap, itu berarti waktu berkunjungnya telah habis, lalu datanglah pemuda yang kedua. Begitu seterusnya. Dengan begitu, sang gadis sedikit banyak jadi memiliki gambaran dan bisa membandingkan, lalu menentukan dengan lelaki manakah ia ingin diculik.

“Mas, kalau rokoknya sudah habis, tapi belum mau pulang gimana?”.

“Itu nantangin namanya, Mbak”.

“Ooo..”. Saya tersenyum kecil sambil manggut-manggut tanpa komentar. Dalam kepala saya, menari secarik pikiran liar .

***

Menenun, Mandiri Dengan Menjaga Tradisi

Semakin memasuki desa ini, saya merasakan perbedaan nuansa yang signifikan dari desa sebelumnya. Jauh dari kesan tenang dan lengang seperti yang saya dapati di desa pertama, disini suasananya terasa riuh dengan suara manusia dan semarak dengan aneka warna.

Kegaduhan yang diciptakan dari atensi wisatawan, berkolaborasi dengan suara gigih perempuan Sade yang menjajakan hasil kerajinannya; menciptakan hingar-bingar yang sejenak membuat saya serasa berada di pasar. Semula saya bahkan sempat mengira, kalau disini merupakan pusat oleh-olehnya Lombok Tengah.

Tak seperti desa pertama yang memiliki koperasi, tempat menjual hasil kerajinan warganya, disini setiap rumah memiliki etalasenya sendiri-sendiri. Beragam tenun ikat dan tenun songket aneka corak dan warna, disampirkan menutupi rak bambu yang dinaungi atap jerami. Disampingnya teronggok meja-meja kecil yang memajang beragam hasil kerajinan tangan berupa souvenir dan aksesoris seperti topeng, gelang, dan kalung.

Kain tenun sade

“Mau coba belajar nenun Mbak?”, tanya pemandu kami, mengejutkan saya yang tengah serius memerhatikan detail corak kain tenun yang dijajakan. Rumah adat Sasak dan Bale Lumbung menjadi corak khas diantara motif lain seperti burung, kerbau, topeng, dan bunga yang juga tersedia. Begitupula dengan corak cicak, yang konon merupakan hewan keberuntungan masyarakat Sasak.

Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki Sasak ini memboyong kami ke rumah seorang ibu paruh baya yang kami temukan tengah asyik bercumbu dengan alat tenunnya. Suara kayu yang menghantam jalinan benang, terdengar membahana, memenuhi udara. Dengan telaten dan cekatan, Ia menggiring dan menjalin untaian benang, helai demi helai, hingga terekat erat membentuk kain.

Seperti halnya rumah yang menjadi manifestasi kecerdasan Suku Sasak dalam berinteraksi dengan alam, begitupula dengan tradisi menenun. Semua bahan yang diperlukan, diperoleh dari alam. Benang untuk menenun, dibuat sendiri dari kapas yang dipintal dengan alat tradisional. Pewarna benang dihasilkan dari tetumbuhan, seperti buah mengkudu yang menghasilkan warna biru, kunyit untuk warna kuning, dan kesumba untuk warna merah. Menenunnya juga bukan menggunakan mesin, tapi dengan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu. Itulah sebabnya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menghasilkan selembar kain tenun. Kabarnya, bisa memakan waktu dua sampai empat minggu. Tergantung ukuran dan kerumitan coraknya.

Melihat kerumitan proses dan mengingat lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan selembar kain, saya pun memilih mengurungkan niat untuk mencoba, khawatir campur tangan saya akan merusak hasil tenunannya yang sudah setengah jadi. Tapi Ibu satu ini terus membujuk dan menggoda. “Pura-pura nenun juga nggak apa-apa Mbak, sekedar diambil fotonya”. Ucap ibu ini akhirnya, tersenyum penuh makna. Rupanya, kelakuan narsis sejumlah wisatawan telah terendus dengan jelas dan sangat dimaklumi disini. Meskipun saya adalah pengecualian, tetap saja jadi sasaran ledekan. :-?

***

“Istrinya udah isi belum Mas?”

“Belum”

“Kok belum Mas?”. Bertanya dengan nada menggoda.

“Kan baru aja nikah”. Diiringi tawa kecil.

“Disini kami ada dukun pijat biar bisa hamil lho”. Mulai berbisik.

“Ya gampanglah. Mau usaha sendiri dulu”. Sambil tertawa sarat makna.

Sekelebat percakapan singkat yang sayup-sayup menggeliat, mengusik konsentrasi saya saat menenun. Percakapan yang membuat tawa saya hampir meledak dan hampir merubuhkan mesin tenun dihadapan. Mungkin pemuda Sasak ini mengira saya benar-benar fokus menenun hingga tidak mendengar pertanyaan jahilnya. Seandainya benar kami telah menikah, pastilah salah satu gulungan benang ini telah mampir membelai wajahnya. :mrgreen:

***

Tips Saya:

  • Tak ada karcis resmi atau tarif khusus yang dipungut sewaktu memasuki Desa Sade. Mereka hanya menyediakan kotak donasi yang bisa diisi sesuai keikhlasan. Begitu selesai mengisi buku tamu, pemandu akan serta merta mendampingi kita, menyusuri desa. Saran saya, jangan tolak keberadaan mereka. Karena kita ibarat tamu, dan mereka adalah tuan rumahnya. Nggak mungkin, kan, kita seenaknya keluar masuk rumah Sasak tanpa dipersilakan. Lagipula, Desa Sade akan semakin menarik dengan adanya penjelasan latar belakang budaya dan tradisi yang mereka ceritakan. Malah kalau memungkinkan, bisa ditawari untuk coba-coba menenun, seperti saya.
  • Berhubung transportasi umum masih sangat jarang, saran saya, lebih baik sewa mobil atau motor saja, supaya bisa leluasa melipir ke pantai-pantai di tepi selatan yang tak jauh letaknya dari Desa Sade.
  • Ada banyak pilihan penginapan di sepanjang pesisir kawasan Kuta, mulai dari budget hotel hingga hotel bintang empat seperti Novotel. Untuk penginapan berfasilitas bintang empat dengan tarif budget hotel, saya merekomendasikan Seger Reef sebagai pilihan. Saat low season awal tahun ini, mereka hanya mengenakan tarif 150 ribu rupiah per malamnya.
  • Berkunjung ke Lombok Tengah antara Bulan Februari dan Maret akan lebih lengkap, karena pada periode ini setiap tahunnya, rutin digelar Festival Bau Nyale di pesisir pantai selatan.

Related Post:

20 Comments

Cuap - cuap Pelancong TraveLafazr ::

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s